Dunia Usaha Mulai Beradaptasi di Tengah Dorongan De-Dolarisasi di Indonesia

Dunia Usaha Mulai Beradaptasi di Tengah Dorongan De-Dolarisasi di Indonesia

JAKARTA — Dunia usaha di Indonesia mulai menyesuaikan diri dengan perubahan lanskap ekonomi global yang mengarah pada pengurangan ketergantungan terhadap dolar AS. Langkah ini sejalan dengan upaya pemerintah dan otoritas moneter untuk memperluas penggunaan mata uang lokal dalam transaksi perdagangan lintas negara.

Lonjakan Transaksi Mata Uang Lokal

Data pemerintah menunjukkan nilai transaksi dalam skema Local Currency Transaction (LCT) melonjak signifikan. Sepanjang Januari hingga Februari 2026, nilai transaksi mencapai US$8,45 miliar, naik 163% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar US$3,21 miliar.

Jumlah pengguna juga meningkat pesat. Pada Februari, tercatat 14.621 pelaku usaha telah memanfaatkan skema ini, dengan rata-rata pengguna bulanan mencapai 16.030 — jauh di atas rata-rata sepanjang 2025.

Kenaikan ini mencerminkan adopsi awal oleh pelaku usaha yang mencari fleksibilitas lebih besar serta efisiensi biaya, khususnya dalam perdagangan bilateral.

Diversifikasi, Bukan Penggantian Dolar

Meski tren de-dolarisasi menguat, kalangan pelaku usaha menilai langkah ini lebih tepat dipahami sebagai strategi diversifikasi, bukan penggantian total peran dolar AS.

Ketua bidang perdagangan Asosiasi Pengusaha Indonesia, Anne Patricia Sutanto, menegaskan bahwa dolar AS masih menjadi jangkar utama sistem keuangan global.

Menurut data dari Bank for International Settlements, dolar masih terlibat dalam sekitar 88% transaksi valuta asing global dan sekitar 40% penagihan perdagangan dunia.

“Ekonomi global memang semakin multipolar, tetapi dolar AS tetap menjadi acuan utama,” ujarnya.

Perluasan Kerja Sama dan Stabilitas Rupiah

Indonesia telah memperluas kerja sama LCT pada 2025 dengan enam mitra utama, yaitu Malaysia, Thailand, Jepang, China, Korea Selatan, dan Uni Emirat Arab. Kebijakan ini merupakan bagian dari strategi untuk mengurangi ketergantungan terhadap dolar sekaligus menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.

READ  Bencana alam melanda Indonesia ... letusan gunung berapi setelah gempa tsunami! | Sebuah gunung berapi meletus di Indonesia, pulau yang sama di Sulavisi

Belakangan, rupiah sempat melemah hingga sekitar Rp17.300 per dolar AS, mendekati titik terendah sepanjang sejarah. Kondisi ini turut mendorong urgensi diversifikasi penggunaan mata uang dalam perdagangan internasional.

Efisiensi vs Tantangan Pasar

Dari sisi bisnis, penggunaan mata uang lokal dinilai mampu meningkatkan efisiensi, terutama dengan mengurangi biaya konversi ganda dan biaya transaksi.

Namun demikian, Anne mengingatkan bahwa manfaat tersebut sangat bergantung pada kesiapan pasar dan struktur rantai pasok di masing-masing sektor.

“Masih ada tantangan, seperti likuiditas yang terbatas dan pasar mata uang non-dolar yang belum dalam. Hal ini bisa menyebabkan spread lebih lebar, biaya lindung nilai lebih tinggi, serta volatilitas yang meningkat,” jelasnya.

Perspektif Eksportir: Pendekatan Praktis

Pelaku ekspor cenderung mengambil pendekatan pragmatis. Ketua Umum Gabungan Perusahaan Ekspor Indonesia, Benny Soetrisno, menyebut bahwa penggunaan mata uang dalam transaksi sangat bergantung pada kesepakatan antara penjual dan pembeli.

“Sebagian besar pembeli masih menggunakan dolar AS,” ujarnya. Meski demikian, ia menilai transaksi dengan mata uang lokal tetap dapat dilakukan selama nilai tukar disepakati kedua belah pihak.

Benny berharap perluasan penggunaan mata uang lokal dapat memberikan kepastian nilai bagi eksportir dalam menerima pembayaran dalam rupiah.

Penguatan Infrastruktur Sistem Pembayaran

Di sisi lain, Bank Indonesia terus memperkuat infrastruktur sistem pembayaran untuk mendukung transisi ini. Salah satu langkah strategis adalah rencana peluncuran konektivitas QRIS lintas negara dengan China pada 30 April mendatang, setelah melalui tahap uji coba yang dinilai berhasil.

Inisiatif ini diharapkan dapat mempermudah transaksi lintas batas sekaligus mempercepat integrasi sistem pembayaran regional.

Penutup

Dorongan de-dolarisasi di Indonesia menunjukkan arah baru dalam strategi ekonomi nasional di tengah dinamika global. Meski dolar AS masih mendominasi, langkah diversifikasi melalui penggunaan mata uang lokal membuka peluang efisiensi dan stabilitas jangka panjang. Keberhasilan implementasinya akan sangat ditentukan oleh kesiapan pasar, dukungan infrastruktur, serta adaptasi pelaku usaha di berbagai sektor.

READ  HDFC memangkas suku bunga pinjaman rumah mulai hari ini

Lainnya dari Penulis

iPhone Edisi 20 Tahun Dikabarkan Usung Layar OLED “Micro-Curved” yang Lebih Tipis dan Terang

iPhone Edisi 20 Tahun Dikabarkan Usung Layar OLED “Micro-Curved” yang Lebih Tipis dan Terang

Tesla Mulai Produksi Cybercab, Kendaraan Otonom Masa Depan

Tesla Mulai Produksi Cybercab, Kendaraan Otonom Masa Depan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *