Mei 25, 2024

poupnews

Berita Lengkap Dunia

Pemilu Indonesia 2024: Menyeimbangkan Teknologi dan Kepercayaan di Era Digital

Pemilu Indonesia 2024: Menyeimbangkan Teknologi dan Kepercayaan di Era Digital

Sirekap awalnya diperkenalkan sebagai alat penghitungan suara pada pemilu 2020, namun kembali muncul pada pemilu 2024 dengan dukungan Komisi Pemilihan Umum (KPU).

Dilihat sebagai wahana transparansi, Sirekap disorot oleh Center for Digital Society (CfDS) UGM pada Jumat (8 Maret) sebagai bagian dari penilaian mereka terhadap pemilu 2024 dalam Digital and Electoral Issues Series (DESUS).

Peran penting teknologi informasi dalam penyelenggaraan pemilu tidak bisa dianggap remeh. Mengingat luasnya wilayah Indonesia dan jumlah penduduknya yang berjumlah 270 juta jiwa, proses pemungutan suara serentak yang efektif dan efisien sangatlah penting.

Sejak pemilu tahun 2004, pemerintah telah memanfaatkan kekuatan Rekap melalui jaringan pribadi virtual (VPN). Teknologi ini terus dikembangkan, mencakup evaluasi untuk memperlancar proses penghitungan suara, mulai dari pemindaian formulir C1 dan entri data hingga pemanfaatan Optical Character Recognition (OCR) dan Optical Mark Recognition (OMR).

Sirekap yang dapat diakses KPPS melalui Android dan website khusus, mengirimkan data langsung ke KPU. Transparansi yang diberikan menjadi alasan KPU lebih memilih Sirekap dibandingkan Sistem Informasi Penghitungan Suara (Situng). Namun banyak anggota KPPS yang kesulitan mencapai Sirekap pada hari pemungutan suara.

“Banyak pemberitaan yang bermunculan mengenai permasalahan tidak dapat diaksesnya Sirekap dan fungsinya pada pemilu, sehingga KPPS mengunggah hasil formulir C ke Google Drive. Menariknya, jumlah suara sah di TPS melebihi jumlah pemilih terdaftar.

Setiap unggahan hasil pemungutan suara dilakukan verifikasi terlebih dahulu sebelum ditampilkan pada grafik hasil pemilu di situs KPU. Namun, tumpukan data yang belum terverifikasi menyebabkan beberapa data menunggu untuk diverifikasi, sehingga Komisi Pemilihan Umum untuk sementara waktu berhenti menampilkan hasil pemilu.

READ  Memperkenalkan fasilitas untuk mengubah riwayat obrolan WhatsApp ke Telegram!

Hal ini merangsang wacana publik di X mengenai kesalahan teknis di Sirekap. Data menunjukkan 85% sentimen negatif terhadap Sirekap berasal dari 90.380 tweet masyarakat.

“Tidak dapat dipungkiri bahwa kerentanan Serikap mengikis kepercayaan masyarakat terhadap KPU. Netizen mengkhawatirkan kesalahan konversi data sehingga menyebabkan inkonsistensi data yang ditampilkan. Selain itu, timbul kecurigaan manipulasi sistem, kekurangan aplikasi, dan masalah transparansi.” , integritas data, kerentanan keamanan, dan anekdot pribadi terkait Sirekap.

Peneliti pendapatan CfDS, Wired, percaya bahwa transparansi sangat penting dalam menilai integritas pemilu. Namun, kesadaran masyarakat mengenai kompleksitas Serikap tidak ada sejak awal. Hasil pemilu sementara di situs KPU tidak secara eksplisit disebutkan sebagai hasil sementara.

Terlebih lagi, penanganan KPU terhadap persoalan Sirekap masih jauh dari harapan. Akibatnya, ketidakpuasan masyarakat meningkat dan menimbulkan perasaan negatif terhadap pengelolaan proses pemilu yang dilakukan KDF.

“Persepsi masyarakat adalah bahwa teknologi dapat menyederhanakan operasional dan mengurangi biaya. Namun, tanpa pernyataan resmi dan strategi respons yang tidak memadai, ditambah dengan penghapusan grafik hasil pemilu, transparansi menjadi sangat terpukul karena masyarakat merasa ada yang ditutup-tutupi.

Penulis: Tasya