Indonesia Dorong Transformasi Digital ASEAN Senilai US Triliun di Tengah Ketegangan Global

Indonesia Dorong Transformasi Digital ASEAN Senilai US$2 Triliun di Tengah Ketegangan Global

Presiden Prabowo Subianto tiba di Cebu, Filipina, Kamis, untuk menghadiri KTT ASEAN ke-48 yang mengusung tema “Navigating Our Future Together”. Pertemuan ini menjadi ujian diplomatik regional pertama bagi pemerintahan Prabowo dalam memperkuat posisi Indonesia di tengah meningkatnya tensi geopolitik global dan perlambatan ekonomi dunia.

Dalam forum tersebut, Indonesia mendorong percepatan integrasi ekonomi digital ASEAN sekaligus memperkuat ketahanan kawasan di sektor pangan, energi, dan stabilitas keuangan.

Fokus Indonesia pada Ekonomi Digital ASEAN

Delegasi Indonesia yang dipimpin Presiden Prabowo turut dihadiri Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto serta Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia.

Salah satu agenda utama Indonesia dalam KTT ASEAN kali ini adalah mendorong penyelesaian Digital Economy Framework Agreement (DEFA), perjanjian perdagangan digital regional yang dinilai berpotensi mengubah lanskap investasi di Asia Tenggara.

DEFA merupakan inisiatif yang mulai diperkuat saat Indonesia memegang Keketuaan ASEAN pada 2023. Kesepakatan ini ditujukan untuk menyederhanakan sistem pembayaran lintas negara, arus data digital, serta regulasi perdagangan elektronik di seluruh negara anggota ASEAN.

Menurut Airlangga, implementasi DEFA dapat menjadi mesin pertumbuhan baru bagi kawasan, terutama ketika ekonomi global menghadapi tekanan akibat konflik geopolitik dan perlambatan perdagangan internasional.

“Implementasi DEFA akan mampu meningkatkan nilai ekonomi digital ASEAN menjadi US$2 triliun pada 2030, naik dari estimasi awal sebesar US$1 triliun,” ujar Airlangga di sela pertemuan di Cebu.

Bagi Indonesia, penguatan ekonomi digital juga sejalan dengan pertumbuhan pesat sektor teknologi domestik, termasuk ekspansi layanan pembayaran digital, perdagangan daring, hingga ekosistem startup yang terus berkembang di kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung, dan Surabaya.

ASEAN Hadapi Tantangan Ketahanan Pangan dan Energi

KTT ASEAN berlangsung ketika dunia menghadapi ketidakpastian akibat konflik global yang memicu gejolak harga energi dan komoditas pangan.

READ  Perjanjian Perdagangan Bebas: India telah menandatangani 13 Perjanjian Perdagangan Bebas || 13 perjanjian perdagangan internasional telah ditandatangani dalam 5 tahun terakhir

Airlangga menegaskan bahwa solidaritas regional kini bukan sekadar agenda diplomasi, melainkan kebutuhan strategis bagi negara-negara ASEAN.

“Fokus KTT ASEAN ke-48 adalah membahas dampak konflik global, khususnya terkait ketahanan energi, ketahanan pangan, dan stabilitas ekonomi kawasan,” kata Airlangga.

Indonesia mendorong respons bersama ASEAN terhadap volatilitas harga energi serta penguatan rantai pasok pangan regional. Langkah tersebut dipandang penting untuk menjaga pertumbuhan ekonomi gabungan ASEAN yang masih relatif kuat di level 4,9 persen pada 2025.

Bagi Indonesia, isu ini juga berkaitan langsung dengan stabilitas harga pangan domestik, termasuk beras dan minyak goreng, yang selama beberapa tahun terakhir menjadi perhatian utama masyarakat.

Prabowo Perkuat Kawasan Timur Lewat BIMP-EAGA

Pada hari pertama kunjungannya, Presiden Prabowo dijadwalkan menghadiri KTT Brunei Darussalam–Indonesia–Malaysia–Philippines East ASEAN Growth Area (BIMP-EAGA).

Forum subregional ini dinilai penting bagi pembangunan kawasan timur Indonesia karena berfokus pada konektivitas maritim dan penguatan jalur perdagangan di luar pusat ekonomi utama ASEAN.

Melalui penguatan BIMP-EAGA, pemerintah Indonesia ingin mendorong investasi masuk ke wilayah kaya sumber daya seperti Kalimantan, Sulawesi, Maluku, dan Papua.

Strategi tersebut juga selaras dengan agenda pembangunan domestik pemerintahan Prabowo, termasuk program pembangunan tiga juta rumah dan penyediaan makan bergizi gratis yang membutuhkan dukungan infrastruktur serta distribusi logistik yang lebih merata.

Target Operasional DEFA pada 2026

Di bawah kepemimpinan Filipina sebagai Ketua ASEAN, Indonesia turut memantau 19 Priority Economic Deliverables (PED) yang mencakup pengembangan ekonomi kreatif hingga kerangka investasi berkelanjutan.

Target utama ASEAN adalah memastikan DEFA dapat beroperasi penuh pada November 2026.

Pemerintahan Prabowo memandang forum ini sebagai momentum penting untuk menjaga Asia Tenggara tetap menjadi kawasan yang menarik bagi investasi global, terutama ketika peta geopolitik dunia terus mengalami perubahan.

READ  RSS Pengadilan Tinggi Madras memerintahkan departemen kepolisian untuk memberikan izin pawai dengan syarat!

Dengan populasi lebih dari 600 juta jiwa dan tingkat adopsi digital yang terus meningkat, ASEAN dinilai memiliki peluang besar untuk menjadi salah satu pusat pertumbuhan ekonomi digital terbesar di dunia dalam dekade mendatang.

Lainnya dari Penulis

Samsung Klaim Galaxy Watch Bisa Prediksi Pingsan Lebih Dini

Samsung Klaim Galaxy Watch Bisa Prediksi Pingsan Lebih Dini

Cara Mencegah AI Membuat Otak “Tumpul”: Kreativitas dan Daya Pikir Jadi Taruhannya

Cara Mencegah AI Membuat Otak “Tumpul”: Kreativitas dan Daya Pikir Jadi Taruhannya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *