ASEAN dan China telah menyepakati pedoman untuk mempercepat pembicaraan tentang prinsip perilaku baik di Laut China Selatan.
Sepertiga kapal dunia melintasi Laut Cina Selatan setiap tahun.
Lebih dari 3 triliun dolar perdagangan melewatinya.
Pedoman tersebut diadopsi pada pertemuan para menteri luar negeri di Jakarta.
Indonesia menjadi tuan rumah pertemuan ASEAN kali ini.
Menteri Luar Negeri Indonesia Retno Marsudi mengatakan bahwa dirinya percaya bahwa China akan menjadi mitra ASEAN yang dapat diandalkan dalam membangun sistem kawasan yang lebih baik.
Hal itu ia sampaikan saat berbicara tentang Konvensi PBB tentang Hukum Laut.
China telah meratifikasi perjanjian tersebut.
Tiruvati Marsudi juga mencatat bahwa hanya dengan demikian kerja sama yang diperlukan dapat dicapai untuk perdamaian, stabilitas, dan kemakmuran di kawasan Indo-Pasifik.
Brunei, Malaysia, Filipina, Vietnam dan Cina memiliki klaim di Laut Cina Selatan.
Sementara itu, dalam beberapa tahun terakhir, China dan Indonesia telah memperebutkan hak penangkapan ikan di Kepulauan Natuna di dekat wilayah yang disengketakan.
Karena berbagai alasan, termasuk COVID-19, pembicaraan telah terganggu.
Kedua belah pihak sepakat untuk mempercepat negosiasi salinan ketiga perjanjian perdagangan bebas pada pertemuan hari ini (13 Juli).

Dimas Saputra adalah penulis di Poupnews.com yang berfokus pada penyajian berita dan informasi terkini secara jelas, akurat, dan mudah dipahami. Ia meliput berbagai topik, termasuk berita umum, politik, bisnis, teknologi, olahraga, hiburan, dan gaya hidup. Dalam setiap tulisannya, Dimas mengutamakan pelaporan yang informatif, relevan, dan berimbang, sehingga pembaca dapat mengikuti perkembangan peristiwa serta isu-isu yang berdampak pada kehidupan sehari-hari dengan lebih baik.
