Investigasi khusus terhadap pinjaman dari China telah mengungkapkan bahwa catatan informasi pinjaman luar negeri yang diambil oleh Sri Lanka telah dirusak.
Diketahui bahwa masalah tersebut terungkap selama penyelidikan khusus oleh Verité Research.
Investigasi Verité Research mengidentifikasi tiga faktor pemicu: kurangnya informasi yang jelas tentang negara mana yang meminjam, dari negara mana pinjaman itu diperoleh, perkiraan yang terlalu rendah dari utang luar negeri pemerintah, dan fakta bahwa beberapa pinjaman luar negeri hilang ketika diambil.
Jumlah total utang pemerintah Sri Lanka kepada China pada tahun 2019 diperkirakan lebih kecil dari jumlah sebenarnya karena tidak termasuk dalam utang luar negeri yang diterima oleh perusahaan pemerintah dengan mengacu pada sumber dari mana pinjaman diperoleh.
Menurut laporan, pemerintah Sri Lanka berutang kepada China sekitar $5429 juta tahun ini, tetapi hanya $3.387.
Investigasi mengungkapkan bahwa pinjaman yang diperoleh dari perbendaharaan untuk proyek pengembangan pelabuhan Hambantota selama periode 2007-2013 dipindahkan ke rekening Otoritas Pelabuhan Sri Lanka pada tahun 2014 dan kembali ke rekening perbendaharaan pada tahun 2017.
Namun, terungkap bahwa jumlah pinjaman yang jatuh tempo pada 2019 tidak ditentukan di rekening Perbendaharaan atau Otoritas Pelabuhan.


Rizky Pratama adalah penulis di Poupnews.com yang berfokus menyajikan informasi aktual dan relevan bagi pembaca. Ia meliput berbagai topik, mulai dari berita terkini, politik, bisnis, dan teknologi hingga olahraga, hiburan, serta gaya hidup. Dalam setiap tulisannya, Rizky mengutamakan pelaporan yang jelas, akurat, dan mudah dipahami, sehingga pembaca dapat mengikuti perkembangan peristiwa serta isu-isu penting yang berdampak pada kehidupan sehari-hari.



